Seminar Nasional dan Pelatihan Budidaya Jabon Kupas Tuntas Bisnis Jabon

Bogor, 30 September – 2 Oktober 2011


Kerjasama
TREE GROWER COMMUNITY dan DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN IPB
didukung oleh SEAMEO BIOTROP

Pendahuluan
Kerusakan hutan dan berkurangnya kawasan hutan telah membuat hutan tropis kehilangan sebagian besar kemampuannya dalam menyuplai kebutuhan kayu global. Disisi lain kebutuhan kayu untuk pasar global semakin meningkat, sehingga prospek investasi bagi pemenuhan kebutuhan kayu cukup cerah.

Jabon (Antocephalus cadamba) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan kayu rimba lainnya. Selain daya tumbuhnya yang sangat cepat, tingkat kelurusannya juga tinggi, berbatang silinder dan cabang yang ada pada masa pertumbuhan akan rontok sendiri ketika pohon meninggi.Sifat ini menguntungkan karena tidak memerlukan pemangkasan. Kayunya berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat serat sangat baik dipergunakan untuk pembuatan kayu lapis (playwood), mebeler, bahan bangunan non kontruksi, maupun kayu gergajian. Dengan demikian budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang cukup besar jika dilakukan secara serius dan benar. Setiap batang pohon jabon yang sehat akan menghasilkan kayu sebanyak 1,5 m3, Dengan harga per-m3 saat ini Rp 1.000.000,-, maka nilai jual jabon usia 5-6 tahun minimal seharga Rp 1.500.000,-/batang. Disamping itu jabon juga potensial sebagai alternatif jenis bagi rehabilitasi dan reklamasi lahan rusak dan terdegradasi termasuk reklamasi lahan bekas tambang.

Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal  : Jumat, 30 September 2011 (Seminar)
Sabtu-Minggu 1-2 Okt. 2011 (Pelatihan)

Waktu : 08.00 – 17.00 WIB
Tempat :    SEAMEO BIOTROP
Jl. Raya Tajur, Km 6 Bogor Jawa Barat;

Biaya     :
Rp.    800.000,- (Seminar)
Rp. 1.000.000,- (Pelatihan)
Rp. 1.600.000,- (Paket)
Fasilitas : Snack, makan siang, seminar kit, sertifikat, modul pelatihan, fieldtrip

Materi Seminar :

  1. Hutan rakyat sebagai penggerak ekonomi mikro masyarakat, Keynote speaker : Menteri Kehutanan
  2. Kebijakan hutan rakyat dan tata niaga hasil hutan rakyat, Kementerian Kehutanan
  3. Jabon sebagai jenis pionir unggul, Dr. Irdika Mansur
  4. Kualitas dan keunggulan kayu jabon, Dr. Naresworo Nugroho
  5. Peluang bisnis pengusahaan jabon, pengusaha jabon sukses
  6. Jabon sebagai bahan baku industri, perusahaan pemanfaat kayu jabon

Materi Pelatihan :

1.     Pengenalan jabon dan jenis komersial lainnya untuk hutan rakyat
2.     Teknik pembibitan dan persemaian jabon
3.     Persiapan lahan dan teknik penanaman jabon
4.     Pengendalian hama dan penyakit jabon
5.     Penyusunan rencana investasi jabon
6.    Fieldtrip ke tegakan jabon

Informasi lanjut dan pendaftaran :
Business Development TGC
Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB
Jl. Lingkar Kampus IPB Darmaga Bogor 16680
Telp.     :  0251 – 8626806
Fax     :  0251 – 8626886
Attn.     :
Dr. Erianto Indra Putra, M.Si. (Komisi Kerjasama dan PPM)
Lody Junio (Ketua Panitia)

e-mail     :  seminasjabon@gmail.com

Formulir pendaftaran
Seminar Nasional dan Pelatihan
Budidaya Jabon :Kupas Tuntas Bisnis Jabon
Nama     :
Instansi     :
Alamat     :

No. Telp/HP     :
e-mail    :

Menyatakan ikut serta dalam Seminar Nasional dan Pelatihan Budidaya Jabon : Kupas Tuntas Bisnis Jabon

Pembayaran akan :
Ditransfer ke rekening panitia :
Bank BNI Cab. Dramaga Bogor
No Rek. 0003894380
A/N. Dekan Fakultas Kehutanan IPB

…………, …………………

(TTd)

Formulir pendaftaran dan salinan bukti transfer yang telah diisi harap difax ke sekretariat panitia di 0251 – 8626886.

 

soal manhut

ni soal manhut 2010

tips bagi mahasiswa SKS

Banyak orang yang memplesetkan ari kata SKS menjadi Sistem kebut samalam, mungkin tak diragukan lagi kalo banyak mahasiswa ipb juga siswa-siswa sekolah yang terbiasa dengan sistem balajar seperti ini termasuk saya sendiri dari dulu memeng terbiasa dengan sistem SKS ini, bahkan mengerjakan laporan pun lebih nyaman dengan sks ini. Ada beberapa hal yang melatar belakangi saya melakukannya, selain aktivitas organisasi kemahasiswaan yang super sibuk dan kadang males kalo nyicil belajar dengan sistem SKS sya lebih fokus dalam menghadapi masalah, mungkin ada benarnya mengenai the power of kepepet. memang benar ketika kita melakukan suatu hal yang waktunya mepet banget adrenalin kita lebih terpacu untuk beraktivitas, sehingga daya konsentrasi kita lebih kuat.

berikut ada tips-tips bagi yang sering SKS

1.Harus punya perhitungan waktu,,,

kalo saya sih di itung per menit (jika untuk membaca satu halaman dibutuhkan waktu 5 menit maka untuk menyelesaikan kitab rangkuti(biktat PPKN di IPB) yang berjumlah 300 halaman dibutuhkan waktu sekitar 5×300 menit untuk menyelesaikan 1 kali baca,,,kalo mo di ulang tinggal di kali aja pengulangnya berapa) begitulah cara penghitungan waktu belajar bagi yang sering SKS. Seringkali orang yang sks dan tidak memperhitungkam waktu dalam belajar malah pusing sendiri,,,,ngadepin diktat yang tebelnya minta ampun memang dibutuhka trik khusus untuk membaca cepai namun efektif.

2. Serius saat perkuliahan,,

percuma kayaknya kalo kita sks namun saal perkuliahan di kelas kita malah tidur ato ngobrol ma temen,, karena informasi yang kita baca saat melakukan SKS akan menjadi informasi baru dan susah untuk di mengerti atau di hafal,,jadika SKS atau malam saat akan ujian sebagai malam kta untuk mengulang materi yang kita sudah mengerti saat di kelas,,al hasil kita bakalan lebih cepet dalam mencerna maeteri

3. Minum kopi biar ngk ngantuk,,

banyak yang bertanya mengapa kopi dpat mengakibatkan mata kita melek? yap,,,kopi mengandung kafein yang akan mempercepat denyut jantung kita,,,,sehingga ketika denyut jantung kita berdetak cepat mata kita ngk bisa dipejamkan atau tidur…. SKS pasti dilakukan saat malam hari n pasti ngantuk kalo malem ntu,, maka saya sarankan untuk minum kopi pekan biar melek,,,namun harus hati-hati jika kata merupakan pengidap mag karena kopi malah dapat membuat asam lambung berlrbih dan perut akan terasa sakat,,,,,bagi yang belum terbiasa minum kopi ada baiknya minum susu ditambah kopi dikit aja biar nanti agak terbiasa jangan sekali-kali minum kopi yang pekan kalo kta jarang minum kopi…. sebenarnya tidak minum kopi pun mata kita akan tetap melek asalkan jantung kita berdegup kencang,,,salah satu caranya dengan melakukan olah raga ringan seperti situp, pus-up ato aktivitas lainnya asal jantung kita berdetak kencang aja.

4. istirahatlah setiap 1 jam sekali

otak kita ketika diporsir abis-abisan untuk mengingat apa yang kita baca balakan lelah juga,,,makannya disarankan untuk istirahat lah sejenak untuk merefresh otak kita,, jalan-jalan bentar di lorong kontrakan ayo liat-liat pemandangan indah lewat jendela (tp awa ada si putih, kalo di depn jendela kita kuburan mah,,hahaaa),,

5. banyak-banyaklah berdoa

ngadepin bahan kuliah yang seabrek ngk balakan kita bisa menghafalnya semua,,,makannya banyak-banyaklah berdoa agar materi yang kta kuasai nanti keluar di ujian,,,,,

Saya sadari kalo SKS itu ngk baik dilakukan atau banyak jg yang gagal gara-gara SKS. Mungkin banyak jg yang ngk sefaham dengan saya,,, namun di sini sya sekedar untuk berbagi pengalamna aja,,, bagaimana saya melakukan sks dah dapat sukses dengan SKS,,,

Category: wisdome  Leave a Comment

pemeliharaan ulat sutra

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ulat sutera adalah larva dari serangga yang termasuk ordo Lepidoptera yang mengalami metamorfosa sempurna.  Siklus hidup ulat sutera diawali dari telur, kemudian menetas menjadi ulat, pupa dan akhirnya menjadi ngengat yang siap bertelur lagi.  Selama menjadi ulat, merupakan masa makan dan terjadi 4 kali pergantian kulit. Sebelum terjadi pergantian kulit ulat sutera dinamakan instar 1, instar 2, instar 3, instar 4 dan instar 5,  dan ulat sutera sama sekali berhenti makan, saat ini dinamakan masa tidur atau masa istirahat.  Setelah instar 5 berakhir ulat mengokon untuk berubah menjadi pupa.  Selanjutnya pupa berubah menjadi kupu dan siklus akan berulang dimulai lagi dari telur.

Dalam melakukan kegiatan pemeliharaan ulat sutera, aspek makanan merupakan hal yang harus diperhatikan agar ulat tetap bisa hidup selain dari factor kebersihan. Makanan yang biasa dikonsumsi oleh ulat sutera adalah daun murbei. Biasanya daun yang digunakan untuk manakan ulat sutera adalah daun ke 2-4 dari pucuk tanaman. Karena apabila terlalu muda atau terlalu tua daun tersebut, maka ulat sutera tidak bisa mengkonsumsinya. Usahakan daun yang dipergunakan jangan basah, Karena kondisi tersebut tidak cukup bagus untuk pertumbuhan ulat sutera.

B. Tujuan

1.      Mahasiswa mengetahui siklus hidup ulat sutera

2.      Mahasiswa mampu menjelaskan siklus hidup ulat sutera dengan benar

3.      Mahasiswa mengetahui berbagai karakter hidup ulat sutera dan cara memeliharanya dengan baik dan benar

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pengamatan Panjang dan Diameter Ulat Sutera Berdasarkan Instar

Hari Ke- Instar Ke- Panjang Rata-rata Diameter Rata-rata Arah

Makan

Keteraangan Lain
1 0.9 cm 0.15 cm pinggir daun
2 0.9 cm 0.15 cm pinggir daun
3 0.9 cm 0.15 cm pinggir daun
4 1 cm 0.17 cm pinggir daun
5 I 1.3 cm 0.25 cm pinggir daun
6 1.3 cm 0.25 cm pinggir daun
7 1.8 cm 0.28 cm pinggir daun
8 2 cm 0.3 cm pinggir daun
9 II 2.2 cm 0.32 cm pinggir daun
10 2.2 cm 0.32 cm pinggir daun
11 2.3 cm 0.38 cm pinggir daun
12 2.3 cm 0.38 cm pinggir daun
13 III 2.5 cm 0.38 cm pinggir daun
14 2.5 cm 0.4 cm pinggir daun
15 2.8 cm 0.46 cm pinggir daun
16 2.9 cm 0..48 cm pinggir daun
17 3 cm 0.5 cm pinggir daun
18 IV 3.4 cm 0.5 cm pinggir daun
19 3.8 cm 0.5 cm pinggir daun
20 4 cm 0.5 cm pinggir daun
21 4 cm 0.5 cm pinggir daun
22 V Mati Mati

2. Pembahasan

Ulat sutera adalah larva dari serangga yang termasuk ordo Lepidoptera yang mengalami metamorfosa sempurna.  Siklus hidup ulat sutera diawali dari telur, kemudian menetas menjadi ulat, pupa dan akhirnya menjadi ngengat yang siap bertelur lagi.  Selama menjadi ulat, merupakan masa makan dan terjadi 4 kali pergantian kulit. Sebelum terjadi pergantian kulit ulat sutera dinamakan instar 1, instar 2, instar 3, instar 4 dan instar 5,  dan ulat sutera sama sekali berhenti makan, saat ini dinamakan masa tidur atau masa istirahat.  Setelah instar 5 berakhir ulat mengokon untuk berubah menjadi pupa.  Selanjutnya pupa berubah menjadi kupu dan siklus akan berulang dimulai lagi dari telur.

Bentuk fisik ulat sutera sangat khas. Fisik ulat sutera terbagi ke dalam tiga bagian utama. Yakni kepala, bagian thorax, serta abdomen atau tubuh. Di bagian kepala terdapat antena sebagai organ syaraf perasa. Ada rahang untuk mengunyah makanan. Ada pula mata. Dan masih ada spinneret, tempat keluarnya filamen sutera. Dibutuhkan ruang gelap untuk penetasan telur sutera. Ketika baru menetas, ulat hanya memiliki panjang tiga milimeter. Setelah sehari, ulat bertambah panjang menjadi sekitar tujuh milimeter. Selama menjalani fase larva, ulat sutera mengalami empat kali ganti kulit dan lima periode makan. Periode makan ini disebut Instar. Bayi-bayi ulat berumur sehari membutuhkan pakan daun murbei muda dan suhu udara yang lembab. Sepanjang perjalanan hidup ulat sutera dari mulai periode instar pertama hingga kelima, ulat mengalami empat kali pergantian kulit. Kondisi ini berbarengan dengan perkembangan bentuk tubuhnya yang juga bertambah besar. Sesudah instar ketiga, menjelang instar keempat dan lima, ulat pun tidur. Pada instar kelima menjelang pengokonan, selama dua hari ulat sutera makan daun murbei tanpa henti. Ketika masa pengokonan tiba, ulat tak lagi makan selama tiga hari. Tubuh ulat menjadi lebih bening saat pengokonan tiba dan bagian mulut mulai mengeluarkan serat. Siklus hidup ulat sutera sejak bayi hingga masa kawin serta bertelur hanya berlangsung selama kisaran waktu satu bulan. Kupu-kupu melewati fase perkembangan hidup sebagai pupa kurang lebih dua pekan. Kupu-kupu baru bisa keluar setelah mengeluarkan cairan liur, khusus untuk melubangi kokon rumah serat sutera yang dibangunnya selama tiga hingga lima hari tanpa henti. Pemeliharaan ulat besar dilaksanakan pada instar IV dan instar V. Kedua instar ini secara fisiologi sangat berbeda satu sama lainnya. Instar IV lebih dekat pada ulat sutera kecil, maka pemeliharaan dititik beratkan pada menjaga lingkungan yang bebas penyakit, suhu dan kelembaban yang sesuai, pemberian pakan yang cukup dan bergizi.Pada instar V merupakan fase terpenting pemeliharaan ulat sutera, karena pada fase ini pertumbuhan kelenjar sutera berjalan cepat. Keperluan daun murbei untuk pakan hampir 90% dihabiskan pada instar V, sehingga daun murbei harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Pengokonan terjadi pada ulat sutera diakhir instar ke-5, yaitu proses membungkus diri dengan serat yang dikeluarkan dari mulutnya, sebelum berubah bentuk menjadi pupa. Kokon inilah yang dimanfaatkan oleh manusia untuk bahan baku benang, sehingga pengokonan harus ditangani dengan benar, baik persiapan alat pengokonan maupun pelaksanaannya, supaya menghasilkan kokon yang berkualitas baik.

Pada waktu itu ulat sutera sudah waktunya mau mengokon dengan ciri-ciri yaitu (1) napsu makan berkurang, bahkan berhenti sama sekali, (2) Tubuhnya menjadi tembus cahaya dan berwarna bening, (3) Ulat sutera cenderung berjalan ke tepi dan kepalanya diangkat-angkat seakan-akan mencari pegangan, (4) Dari mulutnya mengeluarkan liur, (5) Kalau ulat sutera sudah memperlihatkan tanda-tanda tersebut harus segera dipindahkan ke tempat pengokonan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan setiap hari larva diukur diameter kepala dan panjang tubuhnya. Berdasarkan data yang didapat pertumbuhnya, ulat sutera itu punya fase-fase pertumbuhan, yaitu fase pertama sekitar  4 hari sebelum masuk ke instar I atau ganti kulit yang pertama dengan ukuran diameter dan panjang yang relatif kecil dan setelah itu memasuki periode instar I atau ganti kulit untuk pertama kalinya Setelah itu, empat hari berikutnya  ulat kembali berganti kulit untuk memasuki instar II dan kembali berganti kulit serta terjadi pertambahan diameter dan panjang yang relatif signifikan. Pada fase kedua dan ketiga, semua kulit ulat sutera berganti. Tiga fase ini ditempuh dalam tiga belas hari. Pada fase ini, ulat masih sangat sensitive.Fase ke empat, yang dimulai dari hari ke 15, selama 4-6 hari dan setelah itu memasuki instar IV dan mengalami pertambahan diameter dan panjang. Pada fase akhir, ulat sutera akan berhenti makan dan mulai membuat kepompong selama 2-3 hari. Dan ulat mencapai instar V pada hari ke- 23. Pada tahap ini, ulat akan membentuk kokon (kepompong).

Pada larva yang masih berusia muda, larva ulat sutera memakan daun murbei yang telah di buat kecil-kecil. Tapi setelah ulat sutera berukuran besar, daun yang diberikan menjadi lebih tua dan tetap dirajang tapi tidak terlalu kecil, dan selain itu daun yang diberikan jangan terlalu basah. Pada saat pengamatan juga dilihat cara makan ulat sutera yang pada umumnya dari bagian pinggir daun. Sedangkan bentuk ulat sutera yang kita pelihara memperlihatkan perubahan warna, pada saat kecil warnanya agak kehitaman sedangkan pada saat beranjak dewasanya warnanya semakin putih terang. Ulat sutera mengalami pembentukan kokon setelah 23 hari dan pengokonan berlangsung sampai hari ke- 26, setelah itu kokon tersebut tidak berubah menjadi kupu-kupu. Dari empat ulat sutra yang dipelihara hanya satu ulat sutra saja yang sampai membentuk kokon. Tiga yang lainnya mati sebelum membentuk kokokn ini mungkin disebabkan kekurangan makanan atau mungkin juga daun murbeynya terlalu tua sehingga tidak bisa dimakan oleh ulat sutra.

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa, siklus hidup ulat sutera mengalami empat kali ekdisis dan lima instar. Selain itu, dalam pemeliharaan ulat sutera, aspek makanan merupakan faktor yang penting selain kodisi lingkungan yang bersih agar ulat sutera bisa tumbuh dengan baik. Dari semua ulat sutera yang dipelihara, semua ulat sutera mengalami kematian pada fase pembentukan kokon.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.__. Proyek Pengembangan Persuteraan Alam Di Indonesia. Japan International ooperation Agency.

Anonim. 2000. Pedoman Pelaksanaan Pemeliharaan Ulat Sutera Perum Perhutani. Perum Perhutani. Jakarta.

Anonim. 2000. Pedoman Pelaksanaan Pembuatan Tanaman dan Pemeliharaan Kebun Murbei Perum Perhutani. Perum Perhutani. Jakarta.

Atmosoedarjo, Sukiman dkk. 2000. Sutera Alam Indonesia. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta.

Guntoro, Suprio. 1994. Budidaya Ulat Sutera. Kanisius. Yogyakarta.

PENGENALAN TEKNIK KONSERVASI TANAH DAN AIR

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumberdaya hutan. Beberapa tipe hutan yang ada di Indonesia diantaranya hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa gambut, hutan rawa, hutan kerangas, hutan musim, hutan hujan tropika, dan savanna. Tipe hutan yang mendominasi lahan hutan di Indonesia adalah tipe hutan hujan tropika.

Komponen ekosistem hutan diantaranya meliputi pohon, tumbuhan bawah, tanah, air, udara, mikroorganisme, dan satwa. Dalam perkembangannya ekosistem hutan terus mengalami kerusakan baik karena ulah manusia ataupun bencana alam. Kerusakan ekosistem hutan yang dominan pada umumnya karena ulah manusia yang berupa pembalakan liar. Kerusakan komponen ekosistem hutan memberikan pengaruh negatif terhadap komponen penyusun ekosistem. Salah satu contoh komponen penyusun ekosistem yang terganggu adalah tanah.

Teknik konservasi tanah dan air diadakan untuk membantu mengatasi masalah kerusakan atau ancaman terjadinya kerusakan sumberdaya tanah dan air. Bentuk atau macam teknik konservasi tanah dan air yang berkembang saat ini sangat banyak, baik itu dengan metode mekanik maupun vegetative.

1.2. Tujuan

Mahasiswa dapat menjelaskan bentuk/macam teknik konservasi tanah atau air yang dapat diterapkan masyarakat sekitar kampus.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 1. Jenis konservasi air

No. Jenis konservasi air Fungsi Lokasi Ket.
1 Gambian padat (mekanik) 1.      Memperlambat aliran permukaan

2.      Menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak.

Asrama putra
2 Pengolahan tanah (mekanik) 1.      Tanah menjadi gembur sehingga iar mudah berinfiltrasi kedalam tanah

2.      Mengurangi aliran permukaan

3.      Meningkatkan produktivitas lahan

cikarawang
3 Teras bangku (mekanik) 1.      Mengurangi panjang lereng

2.      Mengurangi kecepatan aliran permukaan

3.      Memperbanyak infiltrasi

Cikarawang
4 Tanaman penutup tanah (vegetasi) 1.      Menahan gaya kinetik yang ditimbulkan oleh hujan langsung membentur tanah

2.      Menambah bahan organik tanah

3.      Meningkatkan daya infiltrasi tanah

4.      Menjadi penyeimbang air tersedia di dalam tanah

Asrama putra
5 penanaman dalam strip (vegetatif) 1.      Menahan gaya kinetik yang ditimbulkan oleh hujan langsung membentur tanah

2.      Menambah bahan organik tanah

3.      Meningkatkan daya infiltrasi tanah

4.      Menjadi penyeimbang air tersedia di dalam tanah

Bogor
6 Agroforestry 1.      Menahan gaya kinetik yang ditimbulkan oleh hujan langsung membentur tanah

2.      Menambah bahan organik tanah

3.      Meningkatkan daya infiltrasi tanah

4.      Menjadi penyeimbang air tersedia di dalam tanah

Ciampea

4.2    Pembahasan

Praktikum kali ini membahas tentang konservasi tanah dan ait dengan mencari macam-macam contoh  teknik konservasi tanah dan air di sekitar kampus, dari contoh-contoh tersebut kelompok kami menemukan enam tiknik konservasi tanah dan air, masing-masing tiga untuk tihnik mekanik dan vegetasi . tehnik mekanis didapatkan di asrama puta berupa gambian padat, di cikarawang terdapat 2 macam tehnik mekanis yakni teras bangku dan pengolahan tanah. Tehnik konservasi dengan menggunakan vegetasi di dapat di asrama putra berupa tanaman penutup lahan, di bogor berupa penanaman dalam trip dan di ciampea berupa agro forestry.

Metode konservasi tersebut mempunyai tujuan secar umum melindungi tanah dari curahan langsung air hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, mengurangi run-off dan meningkatkan stabilitas agregat tanah. Contoh yang diamati berupa teknik vegetasi yaitu tanaman penutup lahan yang terdapat di cikarawang menujukan bahwa dengan adanya pentupan lahan maka erosi dapat diperkecil, adapun metode vegetatif adalah usaha-usaha pengendalian dan pengawetan tanah dengan cara vegetatif memanfaatkan peranan tanaman. Pelaksanaannya cara vegetatif memanfaatkan peranan tanaman dalam mengendalikan erosi yakni dengan cara , penghijauan, penanaman secara kontur, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman dan pengawetan serasah.

Selain dengan cara vegetatif, pengendalian erosi juga dapat menggunakan cara mekanik. Fungsi dari cara mekanik adalah memperlambat aliran permukaan, menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak. Contoh dari cara mekanik ini adalah pengolahan tanah, pengelolaan tanah menurut kontur, galengan, dan saluran menurut kontur, teras, perbaikan drainase dan perbaikan irigasi.

Torable Soil Erosion

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat-sifat sebagi akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam  keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula (Sitanala Arsyad, 1898).

Erosi adalah suatu proses pelepasan dan  pengangkutan partikel-partikel tanah yang disebabkan oleh tenaga erosi seperti angin, hujan atau aliran permukaan (Wischmeier, 1959 dalam Pujo Nur Cahyo, 2000).  Erosi pada awalnya akan memindahkan bahan organik dan liat dari dalam tanah (selektivitas erosi) ke badan-badan air (sungai) yang kemudian diendapkan di buffer area sungai atau terbuang ke muara dan ke lautan. Erosi yang terus berlanjut akan mengikis permukaan tanah atau bagian tanah yang lembut (horizon A dan B), sehingga horizon C (bahan induk) dan bahkan horizon R (batuan induk) muncul ke permukaan (Arsyad, 2006).

Nilai T (tolerable soil erosion) adalah nilai laju erosi yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan agar terpelihara suatu kedalaman tanah yang cukup bagi pertumbuhan tanaman/tumbuhan yang memungkinkan tercapainya produktivitas yang tinggi secara lestari disebut erosi yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan yang diberi lambang T. Batas tertinggi erosi yang masih dapat dibiarkan kadang-kadang dapat juga ditetapkan dengan tujuan utama untuk pengendalian kualitas air atau untuk mengendalikan laju pendangkalan waduk (Arsyad, 2006). Besarnya erosi ditoleransikan (T) secara sederhana dapat dikatakan bahwa tidak boleh melebihi proses pembentukan tanah. Sebagai bahan perbandingan ditentukan laju erosi yang masih dapat ditoleransikan untuk setiap penggunaan lahan yang sedang diukur tingkat bahaya erosinya (Utomo, 1989). Keberhasilan pelaksanaan program konservasi tanah salah satu informasi penting yang harus diketahui adalah tingkat bahaya erosi (TBE) dalam suatu DAS atau sub-DAS yang menjadi kajian.

Dengan mengetahui TBE suatu DAS atau masing-masing sub-DAS, prioritas rehabilitasi tanah dapat ditentukan. Tingkat bahaya erosi pada dasarnya dapat ditentukan dari perhitungan nisbah antara laju erosi tanah (A) dengan laju erosi erosi yang masih ditoleransikan. Batas Toleransi Erosi adalah batas maksimal besarnya erosi yang masih diperkenankan terjadi pada suatu lahan. Besarnya batas toleransi erosi dipengaruhi oleh kedalaman tanah, batuan asal pembentuk tanah, iklim, dan permeabilitas tanah. Evaluasi bahaya erosi merupakan penilaian atau prediksi terhadap besarnya erosi tanah dan potensi bahayanya terhadap sebidang tanah. Evaluasi bahaya erosi ini didasarkan dari hasil evaluasi lahan dan sesuai dengan tingkatannya. (Asdak ,2006)

Menurut Arsyad (2000) evaluasi bahaya erosi atau disebut juga tingkat bahaya erosi ditentukan berdasarkan perbandingan antara besarnya erosi tanah aktual dengan erosi tanah yang dapat ditoleransikan (tolerable soil loss). Untuk mengetahui kejadian erosi pada tingkat membahayakan atau suatu ancaman degradasi lahan atau tidak, dapat diketahui dari tingkat bahaya erosi dari lahan tersebut.

1.2  Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu menghitung nilai T, IBE, dan TBE pada beberapa bidang lahan dengan bentuk penggunaan berbeda-beda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Torable Soil Erosion (Erosi yang diperbolehkan/T)

Erosi terbolehkan (Edp/T) adalah jumlah tanah yang hilang yang diperbolehkan per tahun agar produktivitas lahan tidak berkurang sehingga tanah tetap produktif secara lestari (Hardjowigeno 2003). Hal ini diperkuat oleh pendapat Purwowidodo (2002)  bahwa nilai T (tolerable soil erosion) adalah suatu nilai untuk menunjukan laju erosi tanah yang boleh terbiarkan terjadi pada sebidang lahan. Penetapan nilai T perlu mempertimbangkan  beberapa gatra antara lain, laju pembentukan tanah, daya dukung tanah, ancaman erosi tanah, dampak erosi terhadap aneka gatra di luar gatra loka tererosi, teknologi dan ekonomi yang mempengaruhi bebrapa bidang kajian. Hammer dalam Purwowidodo (2002) berpendapat bahwa nilai T ditetapkan berdasarkan jeluk setara tanah (Ds) dan jangka waktu kelestarian sumberdaya tanah yang diharapkan.

Menurut Wood dan Dent dalam Purwowidodo (2002) penetapan nilai T berdasarkan jeluk tanah minimum (Dm) dan laju pembentukan tanah (LPT) dengan persamaan sebagai berikut :

T          = DS/UPT

=((Ds-Dm) / UPT0 + LPT ) untuk Ds>Dm

Nilai T ≤ LPT untuk Ds ≤ Dm

Keterangan :

T   : Laju erosi tanah yang boleh terbiarkan terjadi (t/ha/th)

Ds : Jeluk setara tanah yang merupakan hasil perkalian antara De dan faktor jeluk  tanah (c)

De : Jeluk tanah efektif, yaitu ketebalan tanah dari permukaan tanah sampai loka sembarang pada penampang tanah yang tidak diterobos oleh akar/tanaman

Dm : Jeluk tanah minimum, yaitu ketebalan tanah minimum yang diperlukan tanaman untuk tetap dapat tumbuh optimum

UPT : Umur pakai tanah, yaitu waktu dapat pakai sumberdaya tanah yang dapat diperkirakan dari laju pembentukkannya

LPT : Laju pembentukan tanah

2.2    Indeks Bahaya Erosi

Menurut Purwowidodo (2002) nilai indeks bahaya erosi (IBE) berguna untuk mengetahui besarnya laju erosi yang terjadi yang berpotensi membahyakan kelestarian serta produktivitas tanah yang bersangkutan. Nilai IBE ditetapkan dengan menggunakan persamaan :

IBE = A / T

Keterangan :

IBE : Indeks Bahaya Erosi

A     : Laju erosi yang diperkirakan menurut USLE (t/ha/th)

T     : Laju erosi yang boleh terbiarkan terjadi (t/ha/th)

Klasifikasi Indeks Bahaya Erosi (Hammer 1981)

Nilai Indeks Bahaya Erosi Harkat

1.      < 1,00 Rendah

2.      1,00 – 4,00 Sedang

3.      4,01 – 10,00 Tinggi

4.      > 10,00 Sangat Tinggi

2.3              Tingkat Bahaya Erosi

Tingkat Bahaya Erosi (TBE) merupakan perkiraan maksimum jumlah tanah yang hilang yang akan terjadi pada suatu lahan jika pengelolaan lahan dan tindakan konservasi tidak mengalami perubahan. Hardjowigeno (2003) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tingkat bahaya erosi adalah perkiraan kehilangan tanah maksimum dibandingkan dengan tebal solum tanahnya pada setiap unit lahan bila teknik pengelolaan tanaman dan konservasi tanah tidak mengalami perubahan.

Kegiatan konservasi di lahan kering merupakan langkah konstruktif sehingga dapat meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari. Potensi nya juga dapat dioptimalkan sebagai sumber pendapatan keluarga tani di pedesaan. Menurut Notohadiprawiro (1998), lahan kering marginal yang berstatus kritis dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi lanjut, kandungan bahan organik rendah serta banyak singkapan batuan di permukaan.

Dalam hubungannya dengan erosi yang menyebabkan degradasi lahan serta langkah-langkah penanganannya di lahan marginal telah banyak dibahas pakar. Pada prinsipnya kejadian erosi erat kaitannya dengan erosivitas hujan, erodibilitas tanah serta panjang dan kemiringan lereng.


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Curah hujan

Curah hujan merupakan banyaknya iar yang berasal dari hujan pada satuan lahn tertentu yang biasanya dinyatakan dengan tinggi air per satuan waktu (mm/tahun)

No CH LUAS (M2) LUAS (%)
1 <2500 0 0
2 2500-3000 478251912.195 49.1043
3 3000-5000 495699313.826 50.8957
4 >5000 0 0
Total 973951226 100

Tabel 1. Rekapitulasi CH

Tabel tersebut menunjukan curah hujan pada satuan lahan di Bandung, terlihat bahwa wilayah bandung terbagi menjadi dua wilayah dengan perbandingan luasan hampir 1:1 mempunyai curah hujan yang berbeda, sebesar 49.1043 % wilayah bandung bercurah hujan 2500-3000 mm/th dan 50.8957 % wilayah bandung bercurah hujan 3000-5000 mm/th. Curah hujan yang cukup tinggi ini mengakibatkan lahan di Bandung sangat peka terhadap erosi terutama dengan kemiringan yang tinggi.

3.2 Jenis tanah

Jenis tanah mempengaruhi erosi suatu wilayah, berdasarkan praktikum ini diperoleh data luasan jenis tanah yang ada didaerah sekitar bandung tersebut adalah sebagai berikut :

No Jenis Tanah Luas (m²) Luas (ha)
1 Dystropepts; Humitropepts; Tropohumults 478313958.9 47831.4
2 Dystrandepts; Humitropepts; Hydrandepts 34706489.4 3470.6
3 Dystrandepts; Tropudults; Eutropepts 305029462.5 30502.9
4 Dystropepts; Eutropepts; Tropudalfs; 105799740.1 10580.0
5 Eutropepts; Euntrandepts 12454311.3 1245.4
6 Dystropepts; Tropudults; Troporthents 37647263.8 3764.7
Total 973951226.0 97395.1

Tabel 2. Jenis Tanah

Jenis tanah yang mendominasi daerah tersebut adalah Dystropepts; Humitropepts; Tropohumults dengan luasan 47831 ha. Jenis tanah kedua yang juga mendominasi adalah Dystrandepts; Tropudults; Eutropepts dengan luasan 30502.9 ha. Untuk jenis tanah Eutropepts; Euntrandepts hanya sedikit terdapat didaerah tersebut haya sekitar 1245,4 ha. Total luasan wilayah tersebut ialah 97395.1 ha.

3.3 Kelas kelerengan

Kelas lereng sangat mempengaruhi besar kecilnya erosi yang terjadi semakin curam lereng akan menyebabkan erosi yang terjadi pun semakin besar. Dari data praktikum dapat direkapitulasi data kelas lereng sebagai berikut :

No Kelerengan jenis lereng luas (ha) luas (%)
1 0—8 Datar 0 0
2 8—15 Landai 0 0
3 15—25 agak curam 42334.553 43.46681
4 25—40 Curam 0 0
5 >40 sangat curam 55060.570 56.53319
Total 97395.1227 100

Tabel 2. Kelas Lereng

Kelas lereng sangat curam terjadi di sektar 56.53 % dari wilayah tersebut, dan sisanya di isi oleh kelas agak curam yaitu sebesar 43,46 %. Jadi dari data yang ada dan recapitulasi data tersebut erosi dapat terjadi dengan mudah karena lebih dari 50% wilayah tersebut memiliki jens lereng sengat curam dan sekitar 43 % memiliki jenis lereng agak curam.

3.4 Kelas tutupan lahan

Tutupan lahan dapat mempengaruhi erosi dengan cara memberi hambatan bagi energi kenetik air hujan yang tinggi dengan menggunakan tajuk yang lebat dari vegetasi di atasnya, tutupan lahan juga berpengaruh terhadap laju inviltrasi tanah sehingga penutupah lahan oleh suatu vegetasi dapat mempengaruhi besarnya erosi pada satuan lahan tertentu.  Tutupan lahan yang terdapat pada praktikum ini adalah hutan tanaman, hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, dan hutan lahan kering campuran. Pada praktikum ini diperoleh data recapitulasi tutupan lahan sebagai berikut :

No tutupan lahan Kode Land Use luas (ha) luas (%)
1 Hutan Tanaman Ht 726.074 0.745493
2 Hutan Lahan Kering Primer Hp 17989.262 18.47039
3 Hutan Lahan Kering Sekunder Hs 3464.057 3.556704
4 Pertanian Lahan Kering Campuran Pc 75215.730 77.22741
Total 97395.123 100

Tabel 5. Tutupan Lahan

Di wilayah Bandung tersebut tutupan lahan yang mendominasi adalah hutan lahan kering campuran yaitu sekitar 77% dari wilayah tersebut. Hutan lahan kering primer hanya terdapat di 18 % dari wilayah tersebut. Sisanya 3% hutan lahan kering sekunder dan 1 % hutan tanaman.

4.5 Erosi tanah

Berdasarkan praktikum ini laju erosi tanah yang boleh terjadi di wilayah tersebut ialah sebesar 0 % Karena menurut data dibawah ini perbandingan nilai erosi yang lebih besar dari T adalah 100 %. Data perbandingan erosi dengan laju erosi tanah yang boleh terjadi adalah sebagai berikut :

no T luas (ha) luas (%)
1 A>T 97395.123 100
2 A<T 0 0
Total 97395.123 100

Tabel 6. erosi dibanding T

Nilai T (tolerable soil erosion) dapat digunakan sebagai landasan untuk menetapkan perlu tidaknya dilakukan konservasi pada lahan yang bermasalah. Jika nilai T lebih kecil dari pembentukan tanah maka tidak perlu di lakukan konservasi, sedangkan jika nilai T lebih besar dari laju pemmbentukan tanah maka haruslah dilakukan kegiatan koservasi pada daerah tersebut. Pada praktikum ini nilai erosi yang lebih besar dari nilai T adalah 100 % maka haruslah dilakukan konservasi karena tingkat bahaya erosi yang terjadi di wilayah tersebut sudah sangat tinggi.

TBE ditetapkan berdasarkan telaah terhadap gatra laju erosi tanah yang diperkirakan dengan USLE dan ketebalan solum tanah. Pada praktikum ini didapat kan data TBE /tingkat bahaya erosi sebagai berikut :

no TBE Luas (ha) luas (%)
1 SR 0 0
2 R 17989 18.4703939
3 S 15853.765 16.27778117
4 B 63552.093 65.25182473
5 SB 0.003 0
Total 97395.12 100

Tabel 7. TBE dibanding T

Tingkat bahaya erosi di daerah tersebut digolongkan berat dapat dilihat dari data rekapitulasi TBE di atas sekitar 65 % wilayah tersebut masuk pada kelas tingkat bahaya erosi berat dan sisanya hanya sekitar 16 % dan 18 % untuk kelas bahaya erosi di tingkat sedang daan ringan.


BAB IV

KESIMPULAN

Pengukuran laju erosi dengan menghitung nilai tolarible soil erosion, Indeks Bahaya Erosi, dan Tingkat Bahaya erosi berguna untuk menentukan tingkat kekritisan lahan dan konservasi tanah dan air. Nilai IBE terbesar dari data yang diperoleh menunjukkan pentingnya diadakan konservasi tanah, sedangkan nilai IBE terkecil menunjukkan tidak perlu diadakannya konservasi pada tanah tersebut. Konservasi tanah dapat dilakukan dengan penutupan vegetasi maupun mekanik.

tingkat kekritisan lahan ciwidey

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pengujian benih merupakan analisis beberapa parameter fisik dan kualitas fisiologis sekumpulan benih yang biasanya didasarkan pada perwakilan sejumlah contoh benih. Pengujian dilakukan untuk mengetahui mutu kualitas kelompok benih. Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Salah satu contoh pengujian benih adalah uji viabilitas benih atau uji perkecambahan benih. Uji viabilitas benih dapat dilakukan secara tak langsung, misalkan dengan mengukur gejala-gejala metabolisme ataupun secara langsung dengan mengamati dan membandingkan unsur-unsur tumbuh tertentu.

Pada uji viabilitas benih, baik uji daya kecambah atau uji kekuatan tumbuh benih, penilaian dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan yang lain dalam satu substrat. Sebagai parameter untuk viabilitas benih digunakan presentase perkecambahan. Persentase kecambah yang tinggi sangat diinginkan oleh para petugas persemaian, dan segala sesuatu selain benih murni yang berkecambah akan dianggap sebagai hal yang tidak berguna, oleh karena itu pegujian kecambah atau viabilitas harus menggambarkan kecambah yang potensial. Potensi perkecambahan merupakan hal yang secara langsung didapatkan pada pengujian perkecambahan. Pengujian perkecambahan secara luas digunakan, baik untuk pengujian benih standard maupun untuk pengujian informal secara sederhana di persemaian.

Pengujian viabilitas ada beberapa macam yaitu pengujian pemotongan (cutting test), tetrazolium (TZ), pemotongan embrio, dan pengujian hydrogen peroksida (H2O2). Pengujian viabilitas benih biasanya kurang tepat diterapkan untuk benih-benih yang berukuran sangat  kecil, bahkan teknik pengambilan/pemotongan embrio hampir tidak mungkin dilakukan. Untuk memudahkan dalam pengujian benih, benih yang digunakan harus berukuran agak besar seperti sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) yang digunakan dalam praktikum ini.

Pengujian benih dengan tetrazolium merupakan salah satu uji yang efektif. Uji tetrazolium memanfaatkan prinsip dehidrogenase yang merupakan group enzim metabolism pada sel hidup, yang mana mudah diamati perubahan warnanya. Selain uji TZ, uji hydrogen peroksida (H2O2) juga merupakan uji yang efektif. uji ini merupakan uji viabilitas yang lain, yang membentuk transisi menjadi pengujian kecambah.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah :

1)      Membandingkan hasil pengujian viabilitas benih dengan tetrazolium (TZ) yang di larutkan dalam air dan larutan penyangga.

2)      Membandingkan uji hydrogen peroksida (H2O2) dan control pada benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.).


BAB II

METODOLOGI

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum Pengujian Viabilitas Benih ini dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB pada hari Senin tanggal 21 Maret 2011.

2.2 Alat dan Bahan

1.      Air

2.      Larutan buffer

3.      Tetrazolium (TZ)

4.      Hydrogen peroksida (H2O2)

5.      Benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) sebanyak 18 biji

6.      Kantung plastik hitam

7.      Gelas aqua

8.      Tabung reaksi

2.3 Medote Praktikum

Praktikum ini terdiri dari dua tahap yaitu uji tetrazolium dan uji hydrogen peroksida (H2O2). Langkah awalnya melakukan pengujian benih dengan tetrazolium. Praktikan menyiapkan benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) sebanyak 8 biji yang telah dilakukan perlakuan pendahuluan, yaitu perendaman dengan air panas selama 5 menit dan air dingin selama 24 jam. Langkah berikutnya adalah membagi benih sengon buto menjadi dua bagian, 4 benih dipotong dan 4 benih tidak dipotong. Kemudian 8 benih  tersebut dimasukkan ke dalam TZ air murni begitu juga dilakukan perlakuan yang sama pada TZ buffer selama 2, 3, 6, dan 12 jam. Setelah itu benih dibilas dengan air bersih, kemudian mengamati embrio yang berwarna merah dan tidak berwarna dengan cara membelah benih.

Tahap yang terakhir adalah menguji benih dengan hydrogen peroksida (H2O2). Dengan tahapan yang pertama adalah menyiapkan benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) sebanyak 10 biji. Selanjutnya melakukan perlakuan pendahuluan untuk mematahkan dormansi benih yaitu dengan perendaman dengan air panas selama 5 menit dan air dingin selama 24 jam. Langkah selanjutnya benih sengon buto direndam ke dalam larutan H202 selama 12 jam. Setelah itu benih sengon buto disimpan dalam kertas merang selama 3 hari dan bilas dengan air bersih, setelah tiga hari kemudian mengamati perkecambahan benih sengon buto tersebut dan menghitung prosentasenya dengan persamaan sebagai berikut :

% kecambah = benih yang berkecambah x 100%

total benih

3.2 Pembahasan

Prinsip metode TZ (Uji Tetrazolium) adalah bahwa setiap selhidup akan berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988).

Kelebihan metode TZ meliputi waktu pengujian yang singkat, sangat tepat diaplikasikan pada benih yang mengalami dormansi serta benih yang mengalami pemasakan lanjutan (after ripening), tingkat ketelitian tinggi, sedangkan kelemahannya memerlukan keahlian dan pelatihan yang intensif, bersifat laboratoris, tidak dapat mendeteksi kerusakan akibat fungi atau mikroba lainnya dan bersifat merusak. Metode TZ merupakan metode yang paling sesuai pada hampir semua jenis.

Praktikum dengan menggunakan metode TZ kali ini dilakukan oleh tujuh kelompok menggunakan benih sengon buto. TZ yang dipakai ada dua jenis yaitu TZ dengan pelarut air (kelompok 1-3) dan TZ dengan  pelarut buffer (kelompok 4-7). Perlakuan terhadap benih yaitu benih tidak dibelah dan benih yang dibelah bagian radikulanya. Hasil dari perendaman benih sengon yang dibelah dengan TZ pelarut air yakni rata-rata benih dari seluruh kelompok berwarna merah berjumlah 4 dari 8 benih dan bagian yang berwarna sebanyak 50-60%. Sedangkan untuk benih yang tidak dibelah benih kelompok 1 dan 2 tidak berwarna dan kelompok 3 benih yang berwarna bejumlah 3 dengan 30% bagian yang berwarna merah.Rata-rata benih sengon buto dibelah yang direndam dengan TZ pelarut buffer menghasilkan warna merah sebanyak 4 benih dan bagian yang terwarnai sebanyak 40% sedangkan benih yang tidak dibelah hanya 2 kelompok yang berwarna merah muda (20-30% bagian) dan benih dari 2 kelompok tidak berubah warna.

Hal tersebut menunjukan bahwa sebagian besar benih sengon buto yang diujidengan TZ pelarut air memiliki viabilitas yang sedang karena warna bagian yang terwarnai paling banyak hanya 50%. Sedangkan untuk benih sengon buto pada TZ pelarut air dengan perlakuan dibelah memiliki viabilitas yang rendah karena hanya beberapa benih yang berubah warna serta bagian yang berwarna hanya 20-30%. Benih-benih yang  memiliki viabilitas rendah mungkin saja sudah terserang penyakit sehingga bila ditanam akan sulit untuk berkecambah.

Metode pengujian hidrogen peroksida (Hydrogen peroxide test) merupakan satu-satunya uji cepat yang dapat merangsang perkecambahan untuk tumbuh lebih cepat (Leadem, 1984). Hidrogen peroksida biasa pula digunakan untuk pematahan dormansi. Kelebihan metode hidrogen peroksida meliputi alat/bahan tidak mahal, bersifat objektif dan sederhana dalam penyiapannya, sedangkan kekurangannya tidak praktis pada benih berukuran kecil, waktu uji relatif lama (4 – 8 hari) dan bersifat merusak.

Pengujian viabilitas benih dengan metode hidrogen peroksida kali ini juga dilakukan oleh tujuh kelompok dengan perlakuan waktu perendaman yang berbeda serta terdapat benih sebagai kontrol. Perendaman benih dalam H2O2 selama 2 jam menghasil 3 benih berkecambah. Perendaman benih selama 3 jam tidak menghasilkan benih yang berkecambah. Perendaman benih selama 6 jam menghasilkan 1 benih berkecambah. Perendaman benih selama 8 jam menghasilkan 4 benih berkecambah. Sedangkan untuk benih sebagai kontrol sebagai besar belum berkecambah, hanya 1 kelompok yang seluruh benihnya berkecambah. Hal tersebut menunjukan bahwa perendaman beih dalam H2O2 dapat mempercepat perkecambahan benih karena dalam waktu 3 hari benih yang berkecambah sudah banyak. Akan tetapi semakin lama benih direndam benih maka benih tidak berkecambah hal ini dapat terjadi karena benih rusak terkena zat kimia. Benih sebagai kontrol yang berkecambah dapat terjadi karena benih dalam kondisi yang baik serta terdapat cukup air dalam kertas merang.

SIMPULAN

Berdasarkan praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa benih sengon buto yang direndam dalam TZ pelarut air merupakan benih yang memiliki viabilitas sedang karena perubahan warna hanya terjadi pada separuh bagian benih. Sedangkan benih yang direndam dalam TZ pelarut buffer memiliki viabilitas rendah karena hanya sedikit bagian benih yang berubah warna serta banyak benih yang tidak berubah warna.

Pengujian benih dengan metode perendaman pada hidrogen peroksida menunujukan bahwa H2O2 dapat mempercepat perkecambahan benih jika direndam dalam jangka waktu yang tepat sedangkan jika direndam terlalu lama akan mengakibatkan kerusakan pada benih sehingga benih tidak dapat berkecambah.

DAFTAR PUSTAKA

[AOSA] Association of Seed Analyst. 2001. Tetrazolium Testing Handbook. Halaman : 17-18. www.ucs.iastate.edu [26 Maret 2011].

Byrd, H.W. 1988. Pedoman Teknologi Benih (Terjemahan). State College. Mississipi.

Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Nasional. 2006. Manual Pengujian Benih Tanaman Hutan. Sumedang :  Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura.

Indriyanto. 2008. Pengantar Budidaya Hutan. Jakarta : Bumi Aksara

Leadem, C.L. 1984. Quick Test for Tree Seed Viability. Management Report NO 18. B.C.Ministry Forest Land Research Branch.

Nugroho, A.A. 1998. Pendugaan Kualitas Benih Acacia mangium willd dan Ochroma bicolor Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Skripsi.

Schmidt, Lars. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Subtropis. Na’iem M, penerjemah; Harum F, editor. Jakarta: Dirjen RLPS, Departemen Kehutanan. Terjemahan dari : Guide to Handling Tropical and Subtropical Forest Seed.

uji viabilitas benih

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pengujian benih merupakan analisis beberapa parameter fisik dan kualitas fisiologis sekumpulan benih yang biasanya didasarkan pada perwakilan sejumlah contoh benih. Pengujian dilakukan untuk mengetahui mutu kualitas kelompok benih. Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Salah satu contoh pengujian benih adalah uji viabilitas benih atau uji perkecambahan benih. Uji viabilitas benih dapat dilakukan secara tak langsung, misalkan dengan mengukur gejala-gejala metabolisme ataupun secara langsung dengan mengamati dan membandingkan unsur-unsur tumbuh tertentu.

Pada uji viabilitas benih, baik uji daya kecambah atau uji kekuatan tumbuh benih, penilaian dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan yang lain dalam satu substrat. Sebagai parameter untuk viabilitas benih digunakan presentase perkecambahan. Persentase kecambah yang tinggi sangat diinginkan oleh para petugas persemaian, dan segala sesuatu selain benih murni yang berkecambah akan dianggap sebagai hal yang tidak berguna, oleh karena itu pegujian kecambah atau viabilitas harus menggambarkan kecambah yang potensial. Potensi perkecambahan merupakan hal yang secara langsung didapatkan pada pengujian perkecambahan. Pengujian perkecambahan secara luas digunakan, baik untuk pengujian benih standard maupun untuk pengujian informal secara sederhana di persemaian.

Pengujian viabilitas ada beberapa macam yaitu pengujian pemotongan (cutting test), tetrazolium (TZ), pemotongan embrio, dan pengujian hydrogen peroksida (H2O2). Pengujian viabilitas benih biasanya kurang tepat diterapkan untuk benih-benih yang berukuran sangat  kecil, bahkan teknik pengambilan/pemotongan embrio hampir tidak mungkin dilakukan. Untuk memudahkan dalam pengujian benih, benih yang digunakan harus berukuran agak besar seperti sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) yang digunakan dalam praktikum ini.

Pengujian benih dengan tetrazolium merupakan salah satu uji yang efektif. Uji tetrazolium memanfaatkan prinsip dehidrogenase yang merupakan group enzim metabolism pada sel hidup, yang mana mudah diamati perubahan warnanya. Selain uji TZ, uji hydrogen peroksida (H2O2) juga merupakan uji yang efektif. uji ini merupakan uji viabilitas yang lain, yang membentuk transisi menjadi pengujian kecambah.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah :

1)      Membandingkan hasil pengujian viabilitas benih dengan tetrazolium (TZ) yang di larutkan dalam air dan larutan penyangga.

2)      Membandingkan uji hydrogen peroksida (H2O2) dan control pada benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.).


BAB II

METODOLOGI

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum Pengujian Viabilitas Benih ini dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB pada hari Senin tanggal 21 Maret 2011.

2.2 Alat dan Bahan

1.      Air

2.      Larutan buffer

3.      Tetrazolium (TZ)

4.      Hydrogen peroksida (H2O2)

5.      Benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) sebanyak 18 biji

6.      Kantung plastik hitam

7.      Gelas aqua

8.      Tabung reaksi

2.3 Medote Praktikum

Praktikum ini terdiri dari dua tahap yaitu uji tetrazolium dan uji hydrogen peroksida (H2O2). Langkah awalnya melakukan pengujian benih dengan tetrazolium. Praktikan menyiapkan benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) sebanyak 8 biji yang telah dilakukan perlakuan pendahuluan, yaitu perendaman dengan air panas selama 5 menit dan air dingin selama 24 jam. Langkah berikutnya adalah membagi benih sengon buto menjadi dua bagian, 4 benih dipotong dan 4 benih tidak dipotong. Kemudian 8 benih  tersebut dimasukkan ke dalam TZ air murni begitu juga dilakukan perlakuan yang sama pada TZ buffer selama 2, 3, 6, dan 12 jam. Setelah itu benih dibilas dengan air bersih, kemudian mengamati embrio yang berwarna merah dan tidak berwarna dengan cara membelah benih.

Tahap yang terakhir adalah menguji benih dengan hydrogen peroksida (H2O2). Dengan tahapan yang pertama adalah menyiapkan benih sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) sebanyak 10 biji. Selanjutnya melakukan perlakuan pendahuluan untuk mematahkan dormansi benih yaitu dengan perendaman dengan air panas selama 5 menit dan air dingin selama 24 jam. Langkah selanjutnya benih sengon buto direndam ke dalam larutan H202 selama 12 jam. Setelah itu benih sengon buto disimpan dalam kertas merang selama 3 hari dan bilas dengan air bersih, setelah tiga hari kemudian mengamati perkecambahan benih sengon buto tersebut dan menghitung prosentasenya dengan persamaan sebagai berikut :

% kecambah = benih yang berkecambah x 100%

total benih

3.2 Pembahasan

Prinsip metode TZ (Uji Tetrazolium) adalah bahwa setiap selhidup akan berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988).

Kelebihan metode TZ meliputi waktu pengujian yang singkat, sangat tepat diaplikasikan pada benih yang mengalami dormansi serta benih yang mengalami pemasakan lanjutan (after ripening), tingkat ketelitian tinggi, sedangkan kelemahannya memerlukan keahlian dan pelatihan yang intensif, bersifat laboratoris, tidak dapat mendeteksi kerusakan akibat fungi atau mikroba lainnya dan bersifat merusak. Metode TZ merupakan metode yang paling sesuai pada hampir semua jenis.

Praktikum dengan menggunakan metode TZ kali ini dilakukan oleh tujuh kelompok menggunakan benih sengon buto. TZ yang dipakai ada dua jenis yaitu TZ dengan pelarut air (kelompok 1-3) dan TZ dengan  pelarut buffer (kelompok 4-7). Perlakuan terhadap benih yaitu benih tidak dibelah dan benih yang dibelah bagian radikulanya. Hasil dari perendaman benih sengon yang dibelah dengan TZ pelarut air yakni rata-rata benih dari seluruh kelompok berwarna merah berjumlah 4 dari 8 benih dan bagian yang berwarna sebanyak 50-60%. Sedangkan untuk benih yang tidak dibelah benih kelompok 1 dan 2 tidak berwarna dan kelompok 3 benih yang berwarna bejumlah 3 dengan 30% bagian yang berwarna merah.Rata-rata benih sengon buto dibelah yang direndam dengan TZ pelarut buffer menghasilkan warna merah sebanyak 4 benih dan bagian yang terwarnai sebanyak 40% sedangkan benih yang tidak dibelah hanya 2 kelompok yang berwarna merah muda (20-30% bagian) dan benih dari 2 kelompok tidak berubah warna.

Hal tersebut menunjukan bahwa sebagian besar benih sengon buto yang diujidengan TZ pelarut air memiliki viabilitas yang sedang karena warna bagian yang terwarnai paling banyak hanya 50%. Sedangkan untuk benih sengon buto pada TZ pelarut air dengan perlakuan dibelah memiliki viabilitas yang rendah karena hanya beberapa benih yang berubah warna serta bagian yang berwarna hanya 20-30%. Benih-benih yang  memiliki viabilitas rendah mungkin saja sudah terserang penyakit sehingga bila ditanam akan sulit untuk berkecambah.

Metode pengujian hidrogen peroksida (Hydrogen peroxide test) merupakan satu-satunya uji cepat yang dapat merangsang perkecambahan untuk tumbuh lebih cepat (Leadem, 1984). Hidrogen peroksida biasa pula digunakan untuk pematahan dormansi. Kelebihan metode hidrogen peroksida meliputi alat/bahan tidak mahal, bersifat objektif dan sederhana dalam penyiapannya, sedangkan kekurangannya tidak praktis pada benih berukuran kecil, waktu uji relatif lama (4 – 8 hari) dan bersifat merusak.

Pengujian viabilitas benih dengan metode hidrogen peroksida kali ini juga dilakukan oleh tujuh kelompok dengan perlakuan waktu perendaman yang berbeda serta terdapat benih sebagai kontrol. Perendaman benih dalam H2O2 selama 2 jam menghasil 3 benih berkecambah. Perendaman benih selama 3 jam tidak menghasilkan benih yang berkecambah. Perendaman benih selama 6 jam menghasilkan 1 benih berkecambah. Perendaman benih selama 8 jam menghasilkan 4 benih berkecambah. Sedangkan untuk benih sebagai kontrol sebagai besar belum berkecambah, hanya 1 kelompok yang seluruh benihnya berkecambah. Hal tersebut menunjukan bahwa perendaman beih dalam H2O2 dapat mempercepat perkecambahan benih karena dalam waktu 3 hari benih yang berkecambah sudah banyak. Akan tetapi semakin lama benih direndam benih maka benih tidak berkecambah hal ini dapat terjadi karena benih rusak terkena zat kimia. Benih sebagai kontrol yang berkecambah dapat terjadi karena benih dalam kondisi yang baik serta terdapat cukup air dalam kertas merang.

SIMPULAN

Berdasarkan praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa benih sengon buto yang direndam dalam TZ pelarut air merupakan benih yang memiliki viabilitas sedang karena perubahan warna hanya terjadi pada separuh bagian benih. Sedangkan benih yang direndam dalam TZ pelarut buffer memiliki viabilitas rendah karena hanya sedikit bagian benih yang berubah warna serta banyak benih yang tidak berubah warna.

Pengujian benih dengan metode perendaman pada hidrogen peroksida menunujukan bahwa H2O2 dapat mempercepat perkecambahan benih jika direndam dalam jangka waktu yang tepat sedangkan jika direndam terlalu lama akan mengakibatkan kerusakan pada benih sehingga benih tidak dapat berkecambah.

DAFTAR PUSTAKA

[AOSA] Association of Seed Analyst. 2001. Tetrazolium Testing Handbook. Halaman : 17-18. www.ucs.iastate.edu [26 Maret 2011].

Byrd, H.W. 1988. Pedoman Teknologi Benih (Terjemahan). State College. Mississipi.

Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Nasional. 2006. Manual Pengujian Benih Tanaman Hutan. Sumedang :  Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura.

Indriyanto. 2008. Pengantar Budidaya Hutan. Jakarta : Bumi Aksara

Leadem, C.L. 1984. Quick Test for Tree Seed Viability. Management Report NO 18. B.C.Ministry Forest Land Research Branch.

Nugroho, A.A. 1998. Pendugaan Kualitas Benih Acacia mangium willd dan Ochroma bicolor Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Skripsi.

Schmidt, Lars. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Subtropis. Na’iem M, penerjemah; Harum F, editor. Jakarta: Dirjen RLPS, Departemen Kehutanan. Terjemahan dari : Guide to Handling Tropical and Subtropical Forest Seed.

KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN MENGGENANG

(Studi Kasus : Situ Gede Kuadran 1 Stasiun 3)

Kelompok 3*

ABSTRAK

Praktikum Ekologi Perairan Tergenang ini merupakan praktikum pertama dari mata kuliah Ekologi Perairan. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi perairan tergenang melalui parameter fisika, kimia, dan biologi. Adapun metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah observasi lapang. Pada praktikum ini, kami mengobservasi tiga substasiun yang berbeda di Situ Gede pada hari Minggu tanggal 29 Agustus 2010 pada pukul 13.30-16.30, masing-masing jaraknya kurang lebih 1 meter. Kedalaman di substasiun pertama adalah 0,97 m,di substasiun kedua adalah 1,3 m,dan di substasiun ketiga adalah 1,4 m Dari ketiga substasiun tersebut, kami memperoleh data terhadap parameter fisika berupa warna perairannya coklat, tipe substratnya adalah lumpur dan serasah, suhu air 32° C, dan rata-rata kecerahannya adalah 26,7 cm. Ditinjau dari parameter kimia, diketahui bahwa pH air di perairan Situ Gede adalah 5. Kemudian ditinjau dari parameter biologi, pada substasiun pertama diperoleh benthos berupa kijing 2 buah, nekton berupa ikan sebanyak 3 ekor,dan neuston berupa kumbang sebanyak 2 ekor. Pada substasiun 2, diperoleh benthos berupa kijing dan nekton berupa ikan sebanyak 2 ekor, sedangkan pada substasiun 3, didapatkan nekton berupa ikan sebanyak 1 ekor.

PENDAHULUAN

Ekologi perairan dapat dibedakan menjadi dua karakter, yaitu perairan tergenang (lentik) dan perairan mengalir (lotik). Untuk memantapkan konsep karakteristik ekosistem perairan ini, khususnya perairan tergenang dan melaksanakan tugas praktikum mata kuliah ekologi perairan, kami melakukan observasi lapang ke Situ Gede pada hari Minggu, 29 Agustus 2010. Melalui praktikum ini kami dapat mengetahui karakteristik suatu perairan tergenang yang sesuai dengan teori yang telah kami pelajari. Di sini kami menemukan adanya stratifikasi suhu, tidak ada arus atau hamper tidak ada arus, serta residence time-nya juga lebih lama.

Perairan tergenang (lentik), khususnya danau, mengalami stratifikasi secara vertikal akibat perbedaan intensitas cahaya dan perbedaan suhu. Selain itu, danau juga tidak memiliki arus, sehingga residence time-nya lebih lama. Perairan tergenang juga memiliki stratifikasi kualitas air secara vertikal yang tergantung pada kedalaman dan musim. Zonase perairan tergenang terbagi menjadi dua, yaitu zona benthos dan zona kolom air. Berdasarkan tingkat kesuburannya, perairan tergenang dapat dibedakan menjadi oligotrofik (miskin hara), meso. trofik (haranya sedang), eutrofik (kaya unsur hara). (Effendi,2003). [1]

Danau atau situ merupakan satu dari tipe perairan darat dengan ciri utama tergenang dalam waktu tinggal yang lama, sehingga memungkinkan biota untuk hidup lebih lama dan berkembang. Perbedaan proses pembentukan dan cirri fisiknya, memungkinkan perairan ini memiliki parameter kimia yang beragam. (Lukman, 2007). Praktikum ini dilakukan agar teori tentang karakteristik perairan tergenang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau observasi lapang

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengkaji dan mengidentifikasi karakteristik perairan tergenang di Situ Gede melalui parameter fisika, kimia, dan biologi.

BAHAN DAN METODE

Alat yang digunakan pada praktikum ekosistem perairan tergenang ini adalah: transek kuadrat, secchi disc, pipa paralon 3 inch, pipa paralon 1 inch, termometer, botol film, jar, ember ukuran 10 liter, sikat gigi, karet gelang, kertas label, cutter, serok, kamera, planktonnet, saringan, spidol, sarung tangan, dan kertas indikator pH. Bahan yang digunakan adalah larutan lugol, formalin, dan akuades.

Transek kuadrat digunakan untuk menentukan sampel wilayah yang akan diamati. Cara penggunaannya adalah dengan mengapungkan transek kuadrat di substasiun yang telah ditentukan. Secchi disk untuk mengukur kecerahan air, cara penggunaannya di tenggelamkan ke dalam transek kuadrat sampai tidak terlihat dari permukaan. Pipa paralon 3 inci untuk mengukur kedalaman air dan mengambil substrat dan benthos. Cara penggunaannya sedikit berbeda. Pada saat mengukur kedalaman, ujung pipa paralon hanya menyentuh dasar, sementara pada saat pengambilan substrat dan benthos, pipa dibenamkan hingga ada substrat yang masuk ke dalam paralon. Pipa paralon 1 inci untuk membantu pengukuran dan memudahkan secchi disk  masuk ke dalam air, digunakan dengan cara memasukkan tali secchi disk ke dalam paralon. Termometer untuk mengukur suhu. Cara penggunaannya dengan mencelupkannya ke dalam air dan melihat skala tanpa mengeluarkannya dari air. Botol film adalah tempat untuk meletakkan organisme kecil yang ditemukan ( plankton, perifiton, dan neuston ). Jar adalah tempat meletakkan organisme yang ditemukan ( Benthos dan Nekton ). Ember digunakan untuk mengambil sampel air saat pengambilan plankton. Sarung tangan untuk menghindari terjadinya kontaminasi bahan kimia dengan kulit. Sikat gigi untuk mengambil perifiton. Caranya dengan mengerik batu atau substrat lain yang di dapat di dasar perairan. Karet gelang untuk mengikat planton net dan botol film. Kertas label untuk menuliskan nama organisme yang didapat. Cutter untuk memotong label dan tali. Serok ikan untuk menangkap nekton dan neuston. Kamera untuk mendokumentasikan kegiatan praktikum. Plaktonnet untuk menyaring plankton. Digunakan dengan cara memasukkan air ke dalam planktonnet. Saringan untuk menangkap benthos.  Caranya dengan menyaring substrat-substrat yang di peroleh dari pipa paralon 3 inci. Spidol untuk menulis di atas kertas label dan menentukan skala. Indikator pH  untuk mengukur pH air dengan cara mencelupkannya ke dalam air dan membandingkannya dengan kertas pH.

Lugol adalah larutan yang digunakan untuk mengawetkan organisme renik ( plankton dan perifiton ), sedangkan formalin untuk mengawetkan organisme seperti benthos dan nekton. Akuades berfungsi untuk  mensterilkan sikat gigi dan organisme-organisme yang ditemukan, seperti: benthos, nekton, perifiton.

Pengambilan Sampel di Lapang

Pengambilan sampel di lapang dilakukan dalam tiga parameter, yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi. Semua ini dilakukan dengan cara yang berbeda dan menggunakan alat yang berbeda-beda. Ditinjau dari parameter fisika, warna perairan ini dapat kita lihat dengan visualisasi secara langsung. Kecerahannya dapat dilihat dengan memanfaatkan secchi disc. Secchi disc ini dicelupkan ke dalam air dengan bantuan paralon 1 inch kemudian diamati hingga secchi ini tak lagi terlihat dari permukaan (d1). Setelah itu secchi disc kembali ditarik ke permukaan dan dilihat skalanya saat secchi disc sudah bisa dilihat dari permukaan (d2). Kecerahan didapat dengan mencari nilai rata-rata dari data yang diperoleh. Suhu dapat diukur dengan menggunakan termometer yang dicelupkan ke dalam air. Sementara kedalaman perairan diukur dengan menggunakan paralon ukuran 3 inch yang telah diberi skala. Paralon ini dimasukkan ke dalam air hingga salah satu ujungnya menyentuh dasar perairan, skala pada paralon itulah yang menunjukkan kedalaman air.

Sementara ditinjau dari parameter kimia, pH suatu perairan dapat diukur dengan mencelupkan kertas indikator pH kemudian membandingkan warnanya dengan trayek pH. Berbeda halnya dengan data terhadap parameter biologi, pengidentifikasian benthos dilakukan dengan cara membenamkan paralon 3 inch ke dalam air hingga substratnya masuk ke dalam paralon. Saat paralon itu diangkat dan substratnya ditaruh di saringan kasar dan halus, kemudian dicari benthos pada substrat itu. Perifiton dapat kita temukan pada batu atau substrat yang terdapat dalam dasar perairan. Perifiton ini dapat kita ambil dengan cara mengerik permukaan substrat itu, kemudian memasukkannya pada botol film. Sementara itu, neuston dapat kita ambil dengan serokan, begitu juga dengan nekton. Bedanya, neuston dapat kita temukan dipermukaan air, sementara nekton berada di dalam air. Plankton dapat kita temukan dengan menyaring air dengan menggunakan ember ukuran 10 liter sebanyak 10 kali ke dalam planktonnet.

Analisis Laboratorium dan Data

Di dalam laboratorium, kami menganalisi data yang didapat dari lapangan.data yang kami analisis ditinjau dari aspek fisika berupa kecerahan dan dari aspek biuologi, seperti: kelimpahan plankton, kelimpahan perifiton, dan keadatan benthos.

Rumus yang digunakan adalah:

  1. Kecerahan (m)

Kecerahan =    ;

d1=titik dimana secchi disc mulai tidaj terlihat ketika dibenamkan (m)

d2=titik dimana secchi disc mulai terlihat ketika diangkat (m)

kecerahan substasiun 1=

kecerahan substasiun 2=

kecerahan substasiun 3=

  1. kelimpahan plankton

N=

Kelimpahan fitoplankton substasiun 1=35 ind/mL

Kelimpahan fitoplankton substasiun 2=26 ind/mL

Kelimpahan fitoplankton substasiun 3=42 ind/mL

Kelimpahan zooplankton substasiun 1=0

Kelimpahan zooplankton substasiun 2=0

Kelimpahan zooplankton substasiun 3=1 ind/mL

  1. kelimpahan perifiton

N=

Oi=luas gelas penutup (324 mm)

Op=luas sudut lapang pandang (1.306 mm)

Vr=volume botol contoh (30 ml)

Vo=volume 1 tetes contoh (0.05 ml)

Vs=volume air yang disaring (100 l)

A=luas bidang kerikan (25 cm)

n=jumlah perifiton yang tercacah(individu)

X=jumlah ulangan (3)

P=jumlah lapang pandang (5)

Kelimpahan perifiton substasiun 1=130 ind/mm

Kelimpahan perifiton substasiun 2=59 ind/mm

Kelimpahan perifiton substasiun 3=67 ind/mm

  1. kepadatan benthos

X=

=jumlah individu per satuan alat (individu)

n=jumlah pengulangan (1)

M=luas bukaan mulut alat (4.5581x10m)

Kepadatan benthos pada substasiun 1=438 ind/m

Kepadatan benthos pada substasiun 2=438 ind/m

Kepadatan benthos pada substasiun 3=0

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lingkungan Perairan

Dari data di lapangan analisis laboratorium, kami menemukan karakteristik Situ Gede dari parameter fisika yaitu berwana cokelat, memiliki suhu 32C, kedalaman yang berbeda tiap substasiun yaitu 0.97 m, 1.3m, dan 1.4 m. Kecerahannya juga berbeda yaitu 23.5 cm, 26 cm, dan 30.5 cm. Tipe substatnya adalah lumpur lunak, dan kerikil. Sementara dari parameter kimia, didapatkan nilai pH untuk perairan Situ Gede 5.

Tabel 1. Parameter Fisika-Kimia Ekosistem Perairan Tergenang Situ Gede

Parameter Unit SS-1 SS-2 SS-3
Fisika Warna Cokelat Cokelat Cokelat
Suhu C 32 32 32
Kedalaman cm 90-100 125-135 135-145
Kecerahan cm 22-25 22-30 26-35
Tipe Substrat Lumpur Lumpur halus, kerikil Lumpur
Kimia pH ppt 5 5 5

a.     Warna

Dari data di atas diketahui bahwa secara warna merupakan salah satu parameter fisika. Dari data diperoleh bahwa warna perairan di Situ Gede tidak berbeda antara substasiun 1 dengan yang lainnya. Hal ini disebabkab pada perairan tergenang, substrat pada dasar perairan tidak banyak yang larut dengan air. Selain itu jarak antara substasiun 1 dengan yang lainnya cukup dekat. Warna perairan dipengaruhi oleh kedalaman. Bisaanya, jenis substrat juga mempengaruhi warna perairan, dipinggir bisaanya berwarna gelap atau keruh, sedangkan di daerah tengah lebih terang. Semakin dalam suatu perairan maka semakin pekat warna perairan (E. P. Odum, 1971).

b.    Suhu

Selain warna, suhu pada perairan ini juga tidak berbeda diakibatkan cahaya matahari yang merata pada permukaan sehingga suhu pada stasiun itu secara horizontal sama. Suhu air sangat berpengaruh terhadap proses kimia, fisika dan biologi di dalam perairan, sehingga dengan perubahan suhu pada suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses di dalam perairan. Pada perairan yang tergenang yang mempunyai kedalaman air minimal 1,5 meter bisaanya akan terjadi pelapisan (stratifikasi) suhu. Pelapisan ini terjadi karena suhu permukaan air lebih tinggi dibanding dengan suhu air dibagian bawahnya. Stratifikasi suhu pada kolom air dikelompokkan menjadi tiga yaitu pertama lapisan epilimnion yaitu lapisan sebelah atas perairan yang hangat dengan penurunan suhu relatif kecil (dari 32° C menjadi 28° C). Lapisan kedua disebut dengan lapisan termoklin yaitu lapisan tengah yang mempunyai penurunan suhu sangat tajam (dari 28° C menjadi 21° C). Lapisan ketiga disebut lapisan hipolimnion yaitu lapisan paling bawah di mana pada lapisan ini perbedaan suhu sangat kecil relatif konstan. (Wibawa,2010).

c.     Kedalaman

Kedalaman pada perairan ini semakin ke tengah semakin dalam, hal ini disebabkan oleh dasar perairan yang landai. Menurut Hutabarat dan Evans (1985), kedalaman perairan merupakan petunjuk keberadaan parameter oseanografi. Intensitas cahaya matahari akan berkurang secara cepat dan akan menghilang pada kedalaman tertentu, begitu pula temperatur dan kandungan oksigen terlarut semakin berkurang pada kedalaman tertentu sampai dasar perairan.

d.    Kecerahan

Menurut Odum (1971), kecerahan air adalah bentuk pencerminan daya tembus atau intensitas cahaya yang masuk dalam perairan. Kecerahan perairan juga dapat ditentukan karena adanya fitoplankton atau tumbuhan air lainnya yang terdapat dalam perairan. Kecerahan air dapat diukur apabila kedalaman tembus cahaya matahari ke dalam kolam minimum  40 cm. Pengukuran kecerahan dapat digunakan untuk menentukan besarnya produktifitas primer dalam perairan. Dari pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan Secchi dic, maka perairan di Situ Gede memiliki kecerahan yang cukup baik. Dari ketiga substasiun ini,yang memliki kecerahan yang lebih baik adalah substasiun 1 karena pad saat itu gerak kami belum terlalu banyak sehingga tidak terlalu menyebabkan kekeruhan.

e.     Tipe Substrat

Secara umum, perairan Situ Gede didominasi oleh lumpur halus hanya pada substasiun 2 kita menemukan kerikil. Tipe substrat pada perairan air tawar bisaanya berupa lumpur, pasir, dan batu. Substrat yang terlalu lunak tidak cocok bagi benthos dan perifiton yang hidup di permukaan dan dalam dasar perairan (E. P. Odum, 1996). Substrat berupa lumpur terjadi karena perpaduan antara air dan tanah yang terdapat di dasar perairan dan hasil dari penguraian oleh detrivor juga berupa lumpur (Yonvitner, S. pi. M. Si).

f.     pH

Secara parameter kimia, kita mengukur nilai pH dari periran Situ Gede. Dengan menggunakan kerts indicator pH, kita mendapatkan nilai pH dari perairan ini adalah 5. Derajat keasaman (pH) merupakan parameter kimia yang menunjukan salinitas atau drajat keasaman dari suatu perairan dimana biota air dapat hidup didalamnya, pH yang ideal berkisar antar 6,5-8,5. Dimana setiap organisme air memiliki toleransi pH yang berbeda. Larutan atau air dikatakan asam jika pH-nya < 7, dikatan basa jika pH-nya > 7, sedangkan jika pH-nya = 7 maka larutan tersebut dikatakan seimbang (Purba, 1994).

Dari penjabaran di atas dapat kami simpulkan bahwa perairan Situ Gede dapat dikatakan baik jika ditinjau dari parameter fisika dan kimia. Situ Gede memiliki kedalaman dan kecerahan yang baik serta substrat yang baik untuk kehidupan biota air.

Biologi

Plankton

Dari analisis di laboratorium, kami dapat mengidentifikasi jenis-jenis plankton yang terdapat pada sampel yang kami bawa dari perairan Situ Gede. Jenis plankton yang kami temukan cukup bervariasi, meski di didominasi oleh Closterium. Nama plankton lainnya adalah: Ankistrodesmu, Chilomonas, Dosidium, Navicula, Netrium, Nitzschia, Ophiocytium, Polycystis, dan Selenastrum.

Tabel 2. Kelimpahan Plankton pada Stasiun 1 Situ Gede

Spesies SS 1(ind/L) SS 2(ind/L) SS 3(ind/L)
Fitoplankton Ankistrodesmus 99 198
Closterium 2083 1782 3861
Dosidium 99
Navicula 99
Netrium 99 99
Nitzschia 99 198 297
Ophiocytium 396
Polycystis 99
Selenastrum 793
TOTAL 3569 2475 4257
Zooplankton Chilomonas 99
TOTAL 99
stasiun
Kelimpahan (ind/L)

Gambar 1. Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton pada stasiun 1 Situ Gede

Plankton terbagi menjadi Fitoplankton dan Zooplankton. Fitoplankton terdiri atas ganggang, diatom, dan dinoflagelata. Zooplankton bisaanya terdiri atas rotifera, cladocera, copepoda (Sugiarti Suwingnyo dan Majariana Krisanti, 2005). Kelimpahan plankton di tiap stasiun berbeda. Perbedaan kelimpahan ini disebabkan oleh perbedaan kecerahan dan kedalaman. Semakin banyak mendapat sinar matahari, maka jumlah plankton akan semakin banyak.

Perifiton

Perifiton dapat kami temukan menempel pada substrat di dasar perairan. Pada analisis laboratorium, kami menemukan beberapa jenis perifiton, seperti: Closterium, Netrium, dan Polycystis.

Tabel 3. Kelimpahan Perifiton pada Stasiun 1 Situ Gede

Spesies SS 1 (ind/mm) SS 2 (ind/mm) SS 3 (ind/mm)
Perifiton Closterium 55 39 15
Netrium 3 19 51
Polycystis 71
TOTAL 129 58 66
stasiun
Kelimpahan (ind/cm^2)

Gambar 2. Kelimpahan perifiton pada Stasiun 1 Situ Gede

Perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangat kecil (mikroskopis), oleh karena itu perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa bantuan mikroskop. Perifiton adalah tumbuhan atau hewan yang tumbuh dan menempel pada objek yang tenggelam (E. P. Odum, 1998). Perifiton lebih banyak ditemui pada substasiun 1 yaitu bagian yang lebih dekat ke daratan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya batu atau substrat lain yang jatuh ke dalam air yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat hidup perifiton. Selain itu, cahaya matahari semakin ke tengah semakin sukar menembus sampai ke dasar perairan.

Benthos

Dari penelitian di lapangan, benthos yang terdapat di stasiun 1 Situ Gede adalah kijing.

Tabel 4. Kelimpahan Benthos pada Stasiun 1 Situ Gede

Spesies SS 1(ind/m) SS 2(ind/m) SS 3(ind/m)
Benthos Kijing 438 438
TOTAL 438 438 0
stasiun
Kelimpahan (ind/m^2)

Gambar 3 Kelimpahan Benthos pada Stasiun 1 Situ Gede

Benthos yang banyak di temukan di sini adalah kijing. Di substasiun 1 dan 2 terdapat jumlah benthos yang sama, tetapi pada substasiun 3 sudah tidak ditemukannya benthos. Hal ini dikarenakan pada substasiun 1 dan 2 masih terdapat zat makanan yang bisa dimanfaatkan oleh benthos.

Nekton dan Neuston

Saat mengambil sampel di lapangan, kami menemukan nekton berupa ikan dan neuston berupa kumbang. Nekton merupakan organisme yang dapat bergerak dan berenang dengan kemauan sendiri (dengan demikian dapat menghindari jaring plankton) contohnya seperti ikan, amfibi, serangga air besar dll (E. P. Odum, 1998). Neuston adalah organisme yang tinggal atau beristirahat di atas permukaan air, yang pergerakannya tidak di pengaruhi oleh pergerakan arus (E. P. Odum, 1998).  Pada substasiun 1 kami menemukan ikan sebanyak 3 ekor, pada substasiun 2 kami menemukan ikan sebanyak 2 ekor dan pad substasiun3 sebanyak 1 ekor. Neuston berupa kumbang kami temukan pada substasiun 1 yaitu sebanyak 2 ekor. Pada substasiun 2 dan 3, kami tidak berhasil menemukan neuston.

Tumbuhan Air

Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam air. Yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi.Tumbuhan air dapat dikelompokkan menjadi terrestrial plants adalah tumbuhan air yang seluruh organ tubuhnya belum tertutup oleh air, emerged plants adalah tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada di permukaan air, floating plants adalah tumbuhan air yang bagian akar dan batangnya berada dalam air, sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air, dan submerged plants adalah tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya berada dalam air (E. P. Odum, 1998). Namun pada substasiun yang kami amati, kami tidak dapat menemukan tumbuhan air.

INTERAKSI KOMPONEN ABIOTIK DAN BIOTIK

Interaksi antara komponen abiotik dan biotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme, yaitu:

  1. Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Makhluk hidup atau komponen biotik membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
  2. Air. Ketersediaan air mempengaruhi distribusi organisme. Biota air tidak bisa hidup tanpa air.
  3. Garam. Konsentrasi garam mempengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis.
  4. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya mempengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari.
  5. Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah. Tanah dan batu juga bisa menjadi tempat untuk hidup mikroorganisme.
  6. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

Interaksi antara komponen biotik penyusun ekosistem perairan

Pada ekosistem perairan, terdapat berbagai komponen biotik, seperti fitoplankton, zooplankton, nekton, neuston, benthos, dan tumbuhan air. Fitoplankton dan tumbuhan air merupakan penghasil energi. Zooplankton mendapatkan energi dengan memakan fitoplankton. Zooplankton ini akan dimakan oleh ikan-ikan kecil, ikan-ikan kecil ini akan dimakan oleh ikan besar. Selain itu ada juga ikan yang memakan tumbuhan air. Ikan ini akan diuraikan oleh dekomposer jika mati. (Firmansyah, 2007).

Hal ini dapat dilihat pada rantai makanan berikut:

KESIMPULAN

Dari analisis lapang dan laboratorium, dapat disimpulkan bahwa karakteristik ekosistem perairan tergenang (Situ Gede) dapat ditentukan secara parameter fisika, kimia, dan biologi. Dari parameter fisika, diketahui bahwa perairan ini berwarna coklat dengan suhu tetap, kedalamannya semakin ke tengah semakin bertambah, kecerahannya juga demikian, dan tipe substratnya adalah lumpur. Dari parameter kimia, diketahui bahwa perairan ini bersifat basa. Dari parameter biologi diketahui bahwa banyak plankton da perifiton di perairan ini. Nekton, neuston, dan benthos juga ada. Kelimpahannya semakin berkurang bila semakin ke tengah. Hal ini disebabkan oleh kedalaman, kecerahan, dan sinar matahari yang semakin sukar menembus sampai ke dasar perairan.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.

Firmansyah, Rikki, dkk. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Bandung: PT Setia Purna Inves.

Lukman. 2007. Danau Lindu Keteduhan yang Merindu. Jakarta: LIPI Press.

Odum, E. P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. 4rd ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

LAMPIRAN

Peta Situ Gede, Foto-foto Kegiatan di Situ Gede dan Biota yang Ditemukan

a) Mengukur suhu              b) Mengukur Kedalaman          c) Mengukur kecerahan

d) Mengambil substrat          e) Mengukur pH                        f) Mengambil Plankton

g) Mengambil Perifiton         h) Mengambil benthos             i) Pemberian formalin

j) Pemberian lugol                k) Benthos                                l) Nekton


*Novita MZ (C24090002); Achmad Syarifuddin (C24090025); Yucha Fitriana (C2090043); Nisa Agustina (C24090062); Adam Wiradisastra (C24090067); dian Safarini (C24090071); Hendriyana Rachman (E44080060)

Di bawah bimbingan: Jihan Jemika Agustina/C54080062